Category: Blog

Kebijakan Perancis 2040, Tak Lagi Ada Mobil Bensin dan Solar

S-petro.com – Pemerintah Perancis akhirnya memutuskan kebijakan terhadap sektor otomotif pada negaranya, yakni mengakhiri penjualan kendaraan bertenaga bensin hingga diesel di 2040 untuk melawan pemanasan global.

Setelah waktu yang sudah ditentukan, tiap pabrikan otomotof hanya diperkenankan menjual mobil berbasis listrik atau daya tenaga bersih lainnya, termasuk di dalamnya hybrid.

Pejabat pemerintah yang bertanggungjawab terhadap transisi ekologis Nicolas Hulot, mengatakan hal itu ialah bagian dari tujuan membantu para perakit kendaraan berinovasi hingga terus memimpin pasar.

“Sebuah revolusi dalam mobilitas kehidupan sehari-hari menanti kita,” kata Nicolas, mengutip CNN, Senin (10/7).

Pemerintah menggariskan berbagai inisiatif untuk membantu mencapai tujuan itu begitu-pin dukungan pengembangan bahan bakar alternatif seperti listrik dan hidrogen. Selain itu pemerintah berencana membiayai infrastruktur baru untuk pengisian mobil listrik.

Tidak hanya itu pemerinta juga menjanjikan sebuah program, di mana untuk membayar orang-orang yang berniat melepas kendaraan lama, serta keinginan melakukan penjualan kepada kendaraan lebih bersih. Namun, belum disebutkan, bagaimana program tersebut dapat terlaksana.

Presiden Perancis Emmanuel Macron, telah jelas tentang rencananya untuk mempromosikan kebijakan melindungi lingkungan. Dalam pidatonya di televisi pada Juni lalu, dia mengecam keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menarik diri dari kesepakatan iklim Paris.

Sehingga, ia menawarkan perlindungan kepada ilmuwan, insinyur, dan warga Amerika yang kecewa dengan langkah Trump.

“Mereka akan menemukan di Perancis sebagai tanah air kedua, saya menelpon mereka, datang dan bekerja di sini bersama kami, untuk bekerja sama dalam solusi konkret untuk iklim kita,” ucapnya.

Perpindahan Prancis ke fase kendaraan yang mengandalkan mesin pembakaran datang, paska satu hari setelah salah satu produsen mobil, Volvo mengumumkan bahwa setiap mobil yang dibuatnya mulai 2019 akan memiliki motor listrik.

Volvo adalah produsen mobil pertama yang sepenuhnya merangkul produksi listrik dan hibrida.

Perancis membeli lebih dari dua juta mobil tahun lalu. Pangsa mobil yang diberi tenaga listrik, hibrida dan bahan bakar alternatif kecil berada disekitar empat persen, namun berkembang cepat. Penjualan kendaraan tersebut naik 25% pada kuartal pertama 2017.

Beberapa faktor mendorong industri otomotif menuju motor listrik, termasuk peraturan lingkungan lebih ketat. Tetapi memang, menghilangkan mesin bensin sama sekali akan sulit.

Sementara, alasan utama adalah profitabilitas. Tesla (TSLA) belum melaporkan keuntungan tahunan. Pembuat mobil pada umumnya menghasilkan miliaran dolar saat menjual jutaan mobil bertenaga bensin. Belum ada yang menemukan cara untuk menghasilkan keuntungan dengan hanya menjual kendaraan listrik saja.

Kuota BBM Tidak Berkurang, Tapi Premium dan Solar Subsidi Sering Kosong

S-petro.com – Kuota BBM bersubsidi untuk Kabupaten Lingga masih sama dan tidak ada pengurangan bahkan penambahan dari Pertamina. Namun kondisi di lapangan, masyarakat sering mengalami kekosongan pasokan BBM untuk kebutuhan mereka.

Jatah BBM subsidi dari Pertamina untuk sejumlah penyalur yang ada di Kabupaten Lingga setiap bulan adalah, 280.000 liter solar dan 280.000 liter premium untuk SPBB Junaidi dan 91.603 liter premium dan 375.000 solar untuk SPBB di Senayang. Sementara itu, sejak tahun 2012 Pertamina menambah kuota BBM bersubsidi sebesar 150.000 liter untuk solar dan premium yang disalurkan PT Citra Lingga di Penarik, Daik.

Kondisi ini mendapat tanggapan dari Ketua Lembaga Pemantau dan Pengawasan Tindak Pidana Korupsi (LPP Tipikor) Kabupaten Lingga, Syafii. Dia mempertanyakan penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dan solar APMS di Penarik Daik. APMS tersebut tidak menjual BBM berubsidi selama empat bulan terakhir.

Akibat berhenti beroperasi, agen penyalur BBM bersubsidi yang ditunjuk Pertamina sejak tahun 2012 itu, premium dan solar untuk kebutuhan masyarakat Daik dan sekitarnya terpaksa menggunakan premium dan solar dari PT Junaidi sebagai agen penyalur BBM bersubsidi di SPBB Desa Sungai Buluh.

“Akibat APMS Penarik tidak beroperasi, masyarakat Daik terpaksa mengambil BBM dari SPBB Sungai Buluh. Hal ini membuat bertambahnya biaya transportasi pengecer BBM hingga harga BBM di Daik, lebih mahal dari harga eceran di Dabo,” kata Syafii.

Dia menambahkan, persoalan harga BBM bersubsidi lebih mahal dari Dabo Singkep masih dapat dimaklumi masyarakat Daik. Persoalan yang paling utama adalah ketersediaan BBM untuk mendukung aktivitas masyarakat yang semakin berkurang.

“Sejak APMS di Penarik tidak buka, premium sering hilang di Daik,” kata Syafii.

Berdasakan informasi yang diperoleh Syafii, setiap bulan Pertamina menyalurkan 150 kiloliter premium dan solar kepada APMS di Penarik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Daik. Berdasarkan informasi itu pula ada oknum di manajemen APMS dan seorang oknum anggota DPRD Lingga yang memanfaatkan tidak beroperasinya APMS tersebut untuk mencari keuntungan pribadi.

“Saya dengar ada oknum di APMS bersama oknum anggota DPRD Lingga, mengambil kuota BBM bersubsidi jatah APMS itu untuk dijual sebagai kebutuhan industri. Penegak hukum harus melakukan penyelidikan terkait informasi ini,” ujar Syafii.

Terkait hal ini, Kepala Bagian Ekonomi Setda Kabupaten Lingga, Abang Syafri, membenarkan berhentinya penyaluran BBM bersubsidi yang dilakukan APMS Penarik. Abang mengaku telah mengirimkan surat resmi kepada pihak pengelola APMS Penarik agar memberikan klarifikasi penyebab tidak beraktivitasnya penyaluran BBM bersubdi di Daik.

“Hingga saat ini, surat yang saya layangkan belum direspon pihak PT Citra Lingga. Dalam waktu dekat kami akan melakukan pengecekan langsung ke Pertamina Kepri untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya,” kata Abang.

Kebenaran pembelian premium dan solar bersubsidi yang dilakukan masyarakat Daik, dibenarkan Direktur PT Junaidi sebagai pengelola SPBB BBM bersubsidi di Desa Sungai Buluh, Kecamatan Singkep Barat. Dia mengaku beberapa bulan terakhir warga Daik membeli BBM di SPBB Sungai Buluh.

Namun dia tidak mengetahui pasti apa kendala APMS di Penarik hingga tidak beroperasi lagi. Sementara kuota BBM subsidi untuk Kabupaten Lingga hingga saat ini belum berubah sama seperti saat beroperasi APMS Penarik.

“Untuk kuota masih belum berubah,” kata Edi.

Harga Premium dan Solar Subsidi Hingga Akhir Tahun Tetap

S-petro.com – Pemerintah memutuskan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar subsidi tetap. Harga eceran kedua jenis BBM tersebut tidak mengalami perubahan hingga akhir 2016 nanti.

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Teguh Pamudji mengatakan evaluasi harga dilakukan pemerintah setiap tiga bulan sekali. “Mulai 1 Oktober tidak ada perubahan harga BBM. Ini berlaku hingga tiga bulan ke depan,” kata Teguh di Jakarta, Jumat (30/9).

Teguh mengakui hasil evaluasi harga minyak mentah selama kurun waktu Juli hingga 25 September kemarin mengalami fluktuasi. Hasil evaluasi menyatakan harga eceran premium bisa turun Rp 300 per liter dan solar subsidi naik Rp 500 per liter. Namun pemerintah memilih untuk tidak merubah harga eceran premium dan solar subsidi. “Penjelasan resminya akan disampaikan dalam press release,” ujarnya.

Penyesuaian harga BBM sebelumnya dilakukan pada April 2016 kemarin. Harga premium ditetapkan sebesar Rp 6.450 per liter atau turun Rp 500 per liter dari sebelumnya sebesar Rp 6.950 per liter. Kemudian harga solar subsidi ditetapkan sebesar Rp 5.150 per liter atau turun Rp 500 per liter yang sebelumnya sebesar Rp 5.650 per liter. Sedangkan untuk harga minyak tanah tidak mengalami perubahan alias tetap Rp 2.500 per liter.

Apabila merujuk pada evaluasi per tiga bulan, seharusnya pada Juli kemarin ada penyesuaian harga BBM. Namun pemerintah memilih tidak melakukan revisi harga jual BBM. Hal ini dengan mempertimbangkan situasi yang dihadapi masyarakat. Pasalnya Juni-Juli kemarin merupakan masa libur sekolah dan Hari Raya Idul Fitri.

Harga Premium Dan Solar Berpeluang Naik Bulan Oktober

solar-ilustrasi-antara-dedhez-anggara-2

S-petro.com – PT Pertamina (Persero) memperkirakan harga bahan bakar minyak jenis Premium dan Solar berpeluang naik pada Oktober karena harga minyak mentah jenis Brent, West Texas Intermediate (WTI) dan Mean of Platts (MOPS).

Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan beberapa kali pihaknya harus menanggung kerugian penyaluran solar pada tahun ini.

Sebagai contoh, dia menyebut penyaluran solar pada Juni rugi sebesar Rp550 per liter dan Agustus sebesar Rp200 per liter. Kerugian terdalam yaitu pada Juni disebabkan karena harga Brent dan WTI sebesar US$48 per barel. Hingga akhir tahun, dia menyebut masih belum dapat dipastikan apakah harga bertahan tanpa menanggung kerugian karena saat ini WTI US$44,52 per barel dan Brent US$47,1 per barel.

Saat ini, harga solar Rp5.150 per liter dan premium sebesar Rp6.450 per liter. Kendati demikian, dia menyebut kenaikannya belum bisa diprediksi. Selain itu, menetapkan harga adalah tugas dari pemerintah. Namun, pihaknya akan mengajukan penaikan harga jual solar dan premium paling tidak agar tak mengalami kerugian.

“Kami belum tahu Oktober berubah apa enggak. Kami mengajukan begitu, naik dong ,” ujarnya di sela Rapat Kerja di Komisi VII di Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Selasa (6/9/2016).

Pihaknya pun memperkirakan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas penyaluran premium ternyata menimbulkan kerugian cukup besar.

Menurut Bambang, penyaluran premium Jawa, Madura dan Bali (Jamali) diperkirakan menimbulkan kerugian Rp10,8 triliun dan premium non-Jamali sebesar Rp6,9 triliun.

Kendati demikian, hasil audit secara resmi belum dikeluarkan dari BPK. Seperti diketahui, BPK menemukan keuntungan penyaluran solar yakni Rp3,19 triliun pada 2015.

“Belum selesai (audit) premiumnya. Solarnya sudah. Minusnya banyak. Itu kan kalau ngikutin formula Rp10,8 triliun Jamali, non Jamali Rp6,9 triliun diakui non Jamali,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Vice President Retail Fuel Marketing Pertamina Afandi, mengatakan pada Agustus 2016, penyaluran BBM jenis premium turun 13% dari 70.000 kilo liter (kl) di awal 2016 menjadi 56.000 kl atau 63,4% dari total konsumsi BBM. Adapun, penurunan disebabkan peralihan dari pengguna premium ke pertalite dan pertamax.

Sementara, untuk pertamax kini konsumsinya berada di angka 15,8% dengan penyerapan sekitar 15.000 kl atau naik 226% dari konsumsi pada Januari 2016 yakni 5.000 kl. Lalu, untuk pertalite mengambil porsi sebesar 20,5% dari total konsumsi BBM dengan capaian sebesar 20.000 kl atau naik 462% dari konsumsi Januari 2016 4.500 kl.

Dengan capaian tersebut, pihaknya menargetkan penurunan konsumsi premium bisa menyentuh 50% karena masyarakat kini lebih memilih pertalite dan pertamax daripada premium karena selisih harga yang semakin tipis.

“Di akhir tahun premium bisa turun lagi jadi 50%,” katanya.

Indonesia Impor Minyak untuk Cadangan Penyangga Energi

Solar Industri – Dewan Energi Nasional (DEN) mengungkapkan pemerintah akan mengimpor minyak mentah guna mewujudkan cadangan penyangga energi. Dengan anggaran yang tersedia sebesar Rp 800 miliar maka diperkirakan jumlah minyak yang diimpor mencapai 1,6 juta barel.

Anggota DEN Andang Bachtiar mengatakan, pemenuhan cadangan penyangga sebenarnya bisa berasal dari minyak mentah dalam negeri maupun luar negeri. Sayangnya, produksi minyak dalam negeri saja belum mampu mencukupi kebutuhan nasional. Tercatat lifting minyak nasional sekitar 800.000 barel per hari (bph). Sedangkan, kebutuhan minyak nasional mencapai 1,6 juta bph.

“Jadi, tidak memungkinkan (minyak dalam negeri) untuk diambil lagi (sebagai cadangan penyangga),” kata Andang di Jakarta, Kamis (21/7).

Andang menuturkan, jenis-jenis energi yang menjadi cadangan penyangga yakni minyak bumi, bensin, solar, avtur, dan elpiji. Namun, kali ini yang menjadi prioritas pemerintah dalam membentuk cadangan penyangga ialah minyak bumi.

Dia mengatakan, cadangan penyangga tidak hanya berada di fasilitas penyimpanan minyak milik kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Pasalnya, kilang minyak yang ada di Indonesia pernah memproduksi 1,6 juta barel pada tahun 80-an. Namun, dia belum bisa membeberkan kapan 1,6 juta barel minyak untuk cadangan penyangga bakal diimpor. agen poker

“Yang jelas minyak mentah yang diimpor nantinya disesuaikan dengan spesifikasi kilang minyak di dalam negeri,” ujarnya.

Pemerintah Akan Terbitkan Beleid Khusus Cadangan BBM

S-petro.com – Pemerintah akan menerbitkan beleid khusus terkait pembentukan cadangan operasional bagi badan usaha di sektor distribusi dan niaga bahan bakar minyak (BBM).

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja mengatakan guna menunjang cadangan penyangga energi, badan usaha juga harus terlibat.

Menurutnya, badan usaha di sektor distribusi dan niaga BBM harus memiliki cadangan operasional sesuai dengan target yang ditetapkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yakni 30 hari.

Pasalnya, saat ini tak semua badan usaha memiliki cadangan operasional sendiri. Dengan demikian, ketentuan tersebut akan diatur dalam Peraturan Menteri ESDM tentang Cadangan Operasional.

“Badan usaha distribusi niaga BBM ada yang punya , ada yang belum. Akan kita tata dalam Permen cadangan operasional,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (21/7/2016).

Dalam kesempatan yang sama, Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan cadangan penyangga khusus produk olahan minyak mentah akan menjadi tanggung jawab badan usaha.

Sementara, pemerintah fokus pada pemenuhan stok minyak mentah yang akan dipergunakan dalam situasi darurat atau krisis energi.
Selain memastikan suplai produk, dia menganggap badan usaha juga bisa turut berperan melalui pembangunan infrastruktur penyimpanan dan pengolahan.

Tahun ini, pihaknya mengalokasikan sebesar Rp800 miliar untuk membeli minyak mentah guna menunjang cadangan penyangga energi.

“Produk naik dari badan usaha, crude naik dibangun negara,” katanya.

Pertamina Sumbagut Jamin Pasokan BBM Dan LPG Jelang Puasa Dan Lebaran Aman

S-petro.com – PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region I Sumatra bagian Utara menjamin pasokan bahan bakar minyak dan LPG menjelang puasa dan Lebaran pada tahun ini. Beberapa langkah yang dilakukan yakni penambahan jam operasional terminal BBM dan menambah armada mobil tangki.

Selain itu, General Manager Pertamina MOR I Romulo Hutapea mengatakan akan membentuk posko satuan tugas untuk memantau ketersediaan BBM dan LPG pada 21 Juni hingga 21 Juli 2016.

“Kami akan mempertahankan pasokan BBM dan LPG di 19 terminal BBM, lima depor LPG dan 11 depot pengisian pesawat udara di Sumbagut. Sebanyak 221 SPBU akan beroperasi selama 24 jam khususnya di jalur mudik. Di Sumut ada 141 SPBU, Aceh 55 SPBU, Sumbar 62 SPBU dan Riau 63 SPBU,” paparnya di sela-sela temu media, Sabtu (4/6/2016).

Lebih lanjut, dia merinci, pihaknya juga menyiapkan kantong-kantong SPBU, yakni di Aceh dua SPBU di Simpang Kiri Subulussalam dan Desa Kampung Melayu Aceh Tenggara, dan di Sumut lima SPBU yakni Tanjung Pura, Desa Morulak Rambu, Penyabung Padang Sidempuan, Desa CIkampak, dan Jalan Raya Brastagi-Kabanjahe.

Selanjutnya, di Sumbar enam SPBU yakni di Kayu Tanam Pariaman, Desa Ladang, Jalan Raya Bukit Tinggi-Payakumbuh, Jalan Raya Jenderal Sudirman, Jalan Raya Payakumbuh, dan Salino-Painan.

Di Riau enam SPBU yakni Jalan Putri Tujuh Dumai, Jalan Raya Kandis, Petapahan Siak Hulu, Desa Tandu, Dusun Karya Mu, dan Jalan Raya Lintas Timur Sumatra.

“Kami juga berkoordinasi dengan perbankan, Hiswana Migas, pemda, kepolisian dan instansi terkait. Kami memproyeksi untuk BBM Premium ada peningkatan 11% dari hari normal, dan solar 31%. Saat ini untuk Sumut saja, konsumsi Premium pada hari normal 4.000 KL, dan Solar 3.000 KL,” tambah Romulo.

Dia mengemukakan, untuk konsumsi LPG menjelang puasa dan Lebaran umumnya tidak meningkat signifikan. Sebanyak 70% SPBU yang ada akan dimaksimalkan untuk menjadi titik penjualan LPG, terutama 3 Kg.

“Kenaikan paling hanya 10% dari hari normal. Per hari kami biasanya rata-rata menyalurkan 1.000 metrik ton, dengan rincian 800 metrik ton untuk LPG 3 kg dan sisanya nonsubsidi. Kami siap penuhi permintaan. Kami juga meminta pemda untuk mengawasi ketersediaan dan harga.”

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, di seluruh Indonesia, pihaknya terutama mengantisipasi pasokan BBM di jalur mudik dan wisata. Untuk Sumbagut seperti di Danau Toba, Brastagi, dan Bukit Tinggi.

“Berdasarkan pengalaman, selama libur panjang Lebaran dan puasa, konsumsi Premium tidak naik. Justru Pertamax dan Pertalite. Untuk solar ya turun karena kendaraan besar kan dilarang beroperasi. Selain itu, kami siapkan BBM dalam kaleng sebanyak mungkin agar mudah kalau macet. Mobil tangki juga standby,” ucapnya.

Dorong Konsumsi Produk Solar Berkualitas, Pertamina Hadirkan Dexlite di Medan

Solar Industri – PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) I Sumbagut mulai melakukan penyaluran dan pengisian perdana produk bahan bakar diesel non subisidi, Dexlite, di Medan, Sumut.

Produk bahan bakar diesel Dexlite tersebut kini sudah ada di 3 lokasi SPBU di Kota Medan. Ketiga SPBU itu yakni SPBU 14.201.1121 Jalan Arteri Ringroad, SPBU 14.204.1120 Jalan Pelabuhan Belawan dan SPBU 14.203.1199 Jalan Cemara.

“Secara terus menerus, outlet Dexlite di SPBU akan terus bertambah untuk memudahkan konsumen memperoleh produk bahan bakar diesel berkualitas,” kata Direktur Pemasaran PT Pertamina Ahmad Bambang di SPBU 14.201.1121 Jalan Arteri Ringroad, Medan, Sabtu (4/6/2016).

Bambang menuturkan, Dexlite memiliki spesifikasi produk di antara solar dan Pertamina Dex dengan angka cetane number 51 dan kandungan sulfur maksimal 1.200 ppm.

“Diharapkan produk Dexlite menjadi alternatif pilihan bagi para konsumen yang menginginkan bahan bakar lebih baik dari produk jenis solar dengan harga yang lebih terjangkau,” ujarnya.

Untuk diketahui, Dexlite di Medan dijual dengan harga Rp 6.650 perliter.

“Dexlite ini lebih irit 10 persen dibandingkan dengan solar. Kita harap, konsumen solar pindah ke Dexlite sebanyak 15 persen,” tutup Bambang.