Harga Premium Dan Solar Berpeluang Naik Bulan Oktober

solar-ilustrasi-antara-dedhez-anggara-2

S-petro.com – PT Pertamina (Persero) memperkirakan harga bahan bakar minyak jenis Premium dan Solar berpeluang naik pada Oktober karena harga minyak mentah jenis Brent, West Texas Intermediate (WTI) dan Mean of Platts (MOPS).

Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan beberapa kali pihaknya harus menanggung kerugian penyaluran solar pada tahun ini.

Sebagai contoh, dia menyebut penyaluran solar pada Juni rugi sebesar Rp550 per liter dan Agustus sebesar Rp200 per liter. Kerugian terdalam yaitu pada Juni disebabkan karena harga Brent dan WTI sebesar US$48 per barel. Hingga akhir tahun, dia menyebut masih belum dapat dipastikan apakah harga bertahan tanpa menanggung kerugian karena saat ini WTI US$44,52 per barel dan Brent US$47,1 per barel.

Saat ini, harga solar Rp5.150 per liter dan premium sebesar Rp6.450 per liter. Kendati demikian, dia menyebut kenaikannya belum bisa diprediksi. Selain itu, menetapkan harga adalah tugas dari pemerintah. Namun, pihaknya akan mengajukan penaikan harga jual solar dan premium paling tidak agar tak mengalami kerugian.

“Kami belum tahu Oktober berubah apa enggak. Kami mengajukan begitu, naik dong ,” ujarnya di sela Rapat Kerja di Komisi VII di Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Selasa (6/9/2016).

Pihaknya pun memperkirakan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas penyaluran premium ternyata menimbulkan kerugian cukup besar.

Menurut Bambang, penyaluran premium Jawa, Madura dan Bali (Jamali) diperkirakan menimbulkan kerugian Rp10,8 triliun dan premium non-Jamali sebesar Rp6,9 triliun.

Kendati demikian, hasil audit secara resmi belum dikeluarkan dari BPK. Seperti diketahui, BPK menemukan keuntungan penyaluran solar yakni Rp3,19 triliun pada 2015.

“Belum selesai (audit) premiumnya. Solarnya sudah. Minusnya banyak. Itu kan kalau ngikutin formula Rp10,8 triliun Jamali, non Jamali Rp6,9 triliun diakui non Jamali,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Vice President Retail Fuel Marketing Pertamina Afandi, mengatakan pada Agustus 2016, penyaluran BBM jenis premium turun 13% dari 70.000 kilo liter (kl) di awal 2016 menjadi 56.000 kl atau 63,4% dari total konsumsi BBM. Adapun, penurunan disebabkan peralihan dari pengguna premium ke pertalite dan pertamax.

Sementara, untuk pertamax kini konsumsinya berada di angka 15,8% dengan penyerapan sekitar 15.000 kl atau naik 226% dari konsumsi pada Januari 2016 yakni 5.000 kl. Lalu, untuk pertalite mengambil porsi sebesar 20,5% dari total konsumsi BBM dengan capaian sebesar 20.000 kl atau naik 462% dari konsumsi Januari 2016 4.500 kl.

Dengan capaian tersebut, pihaknya menargetkan penurunan konsumsi premium bisa menyentuh 50% karena masyarakat kini lebih memilih pertalite dan pertamax daripada premium karena selisih harga yang semakin tipis.

“Di akhir tahun premium bisa turun lagi jadi 50%,” katanya.

Bagikan!