Tag: Pertamina

Dorong Konsumsi Produk Solar Berkualitas, Pertamina Hadirkan Dexlite di Medan

Solar Industri – PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) I Sumbagut mulai melakukan penyaluran dan pengisian perdana produk bahan bakar diesel non subisidi, Dexlite, di Medan, Sumut.

Produk bahan bakar diesel Dexlite tersebut kini sudah ada di 3 lokasi SPBU di Kota Medan. Ketiga SPBU itu yakni SPBU 14.201.1121 Jalan Arteri Ringroad, SPBU 14.204.1120 Jalan Pelabuhan Belawan dan SPBU 14.203.1199 Jalan Cemara.

“Secara terus menerus, outlet Dexlite di SPBU akan terus bertambah untuk memudahkan konsumen memperoleh produk bahan bakar diesel berkualitas,” kata Direktur Pemasaran PT Pertamina Ahmad Bambang di SPBU 14.201.1121 Jalan Arteri Ringroad, Medan, Sabtu (4/6/2016).

Bambang menuturkan, Dexlite memiliki spesifikasi produk di antara solar dan Pertamina Dex dengan angka cetane number 51 dan kandungan sulfur maksimal 1.200 ppm.

“Diharapkan produk Dexlite menjadi alternatif pilihan bagi para konsumen yang menginginkan bahan bakar lebih baik dari produk jenis solar dengan harga yang lebih terjangkau,” ujarnya.

Untuk diketahui, Dexlite di Medan dijual dengan harga Rp 6.650 perliter.

“Dexlite ini lebih irit 10 persen dibandingkan dengan solar. Kita harap, konsumen solar pindah ke Dexlite sebanyak 15 persen,” tutup Bambang.

Kelebihan Pasokan, Pertamina Bakal Ekspor Solar

Solar Industri – PT Pertamina (Persero) mengaku saat ini fasilitas pengolahan minyak (kilang) dalam negeri yang dimilikinya telah kelebihan pasokan selama dua bulan terakhir. Perseroan juga berencana mengekspor kelebihan pasokan solar tersebut ke luar negeri akibat harga komoditas yang anjlok.

Direktur Pengolahan Pertamina Rachmat Hardadi mengatakan, sejak beberapa waktu terakhir perseroan bahkan telah mengimpor solar. Kelebihan pasokan ini dikarenakan serapannya di dalam negeri agak lesu.

“(Kelebihan pasokan) bukan karena produknya nambah banyak. Tapi serapan konsumsi turun, industri sedang lesu, sedang dijajaki untuk ekspor. Tentu dengan harganya yang bagus,” katanya di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Selasa (19/4/2016) malam.

Sementara, Direktur Utama PT Pertamina (persero) Dwi Soetjipto menuturkan, saat ini produksi solar telah terjadi keseimbangan jika dilihat dari matrix balance solar. Karena itu, BUMN migas ini sudah tidak lagi mengimpor solar.

“‎Kira-kira kalau dari matrix balance ‎(produksi solar) nya mungkin sudah balance ya. Kalau kita implementasikan 20% FAME, solar kita enggak lagi impor. Atau mungkin sangat kecil, tergantung situasinya,” tutur dia.

Sebelum menjajaki ekspor solar, tambah mantan Bos Semen Indonesia itu, pihaknya akan lebih dulu menggunakan kelebihan pasokan solar tersebut untuk membuat smoot fluid. ” Kalau nanti kelebihan, tapi pertama kelebihannya akan converse dulu ke smooth flu‎id dan itu untuk drilling. Kan harganya bisa lebih mahal,” pungkasnya.

Pertamina Siap Hadirkan Solarlite, Solusi Solar Murah Berkualitas

Solar Industri – Setelah sempat dirumorkan OTOMOTIFNET kalau PErtamina berencana untuk menghadirkan jenis baru bahan bakar solar yang diposisikan seperti Pertalite, yakni ditengah antara solar subsidi dan Pertadex.

Nama yang beredar luas Solarlite, menggunakan kata ‘Lite’ yang menjurus pada spesifikasi yang lebih ‘ringan’ dibanding Pertadex, efeknya harga jual yang ditawarkan bisa lebih murah.

“Ya Solarlite ada diantara itu (Solar subsidi dan Pertadex). Semuanya masih kita pelajari, pastinya spesifikasi akan berbeda diantara ketiga jenis ini. Termasuk berapa harga eceran nantinya,” ujar Ahmad Bambang, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina.

Sama seperti PErtalite, Solarlite akan diposisikan sebagai bahan bakar non subsidi. Sesuai misinya, bahan bakar ini tentu dihadirkan untuk menjangkau semakin banyak kalangan yang ingin mobil dieselnya minum solar dengan kualitas diatas solar subsidi, tapi harganya tidak semahal Pertamina Dex.

Kalau solar subsidi harga ecerannya Rp 5.950 per liter dan Pertamina Dex banderol ecerannya Rp 9.000 per liter, maka untuk Dex-Lite bisa dijual eceran diangka Rp 8.000-an per liter.

“Tidak akan sampai Rp 8000-an, tapi belum, nanti saja. Tunggu informasi peluncuran resmi dari Pertamina,” tutup Bambang.

Incoming search terms:

Pertamina Klaim Ada Perbaikan pada Rantai Pasok BBM

Solar Industri – PT Pertamina (Persero) menyatakan terjadi perbaikan rantai pasok bahan bakar minyak (BBM) dan minyak mentah melalui transformasi Integrated Supply Chain (ISC) dari Pertamina Energy Trading Limited (Petral).

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan ISC terus melakukan perbaikan guna memastikan ketahanan pasokan BBM dan optimasi-optimasi rantai pasok hilir berjalan dengan baik.

“Transformasi juga ditujukan terciptanya best practices proses pengadaan mulai dari perencanaan hingga dihasilkannya hasil terbaik melalui proses yang transparan,” kata Wianda di Jakarta, Rabu (25/11/2015).

Menurut Wianda, transformasi yang dilakukan ISC telah menghasilkan perubahan positif. Buktinya, terjadi penghematan hingga pekan terakhir November 2015 ini mencapai US$ 133 juta.

Beberapa langkah nyata yang sudah dilakukan antara lain membuka kesempatan yang sama kepada lebih banyak mitra untuk berkompetisi memberikan penawaran terbaik, menerapkan proses evaluasi tender yang transparan, dan mengurangi biaya dengan penerapan skema pembayaran TT (telegraphic transfer).

“Untuk menjamin transparansi tersebut, ISC Pertamina juga menyajikan keterbukaan informasi pengadaan melalui situs resmi perusahaan,” ujar Wianda.

Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengaku pesimistis mafia migas dapat diberantas meski Pertamina Energy Trading Li‎mmited (Petral) sudah tidak berperan dalam pengadaan minyak mentah dan BBM.

Rizal mengungkapkan ketidakyakinan ini karena melihat lembaga pengganti yang memegang peran Petral, yaitu Integrated Supply Chain (ISC), dioperatori orang yang sama. “Saya enggak begitu yakin, orang-orangnya masih sama saja,” ucap Rizal‎.‎ (Pew/Nrm/liputan6)

Harga Solar dan Tarif Listrik Turun Untuk Dorong Industri

S-petro.com – Pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak dan sejumlah tarif energi lainnya sebagai bagian dari paket kebijakan ekonomi tahap ketiga.

Dalam jumpa pers di kantor presiden, Rabu (07/10), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan penurunan tarif energi dimaksudkan untuk mendorong pergerakan industri.

Tarif pertama yang diturunkan ialah bahan bakar minyak bersubsidi jenis solar yang diturunkan Rp200 per liter sehingga harga ecerannya menjadi Rp6.700 per liter. Penurunan harga yang sama juga akan berlaku untuk solar non-subsidi.

“Harga ini berlaku tiga hari setelah pengumuman ini,” kata Sudirman, merujuk Sabtu (09/10) mendatang.

Tarif lain yang diturunkan ialah bahan bakar minyak jenis Pertamax yang menjadi Rp9.000 per liter, turun Rp250 dari harga sebelumnya. Kemudian Pertalite turun Rp100 menjadi Rp8.400 per liter.

“Adapun Premium, karena hitungan Pertamina harus dicapai, belum bisa diturunkan,” ujar Sudirman. Elpiji 12 kilogram juga diturunkan dari Rp144.000 ke Rp134.000.

Potongan listrik

Soal tarif listrik, Sudirman Said mengatakan ada tiga insentif yang diberikan pemerintah.

Insentif pertama adalah penurunan tarif berdasarkan penyesuaian sebesar 2,6%, sedangkan yang kedua adalah diskon 30% bagi pengguna listrik yang memakai beban pada pukul 23.00 hingga 08.00.

“Banyak perusahaan-perusahaan yang bisa dijalankan secara mekanik, jadi andalannya mesin. Kalau mereka menaikkan kemampuan produksi di malam hari, diskon listriknya 30% dari tarif normal,” kata Sudirman.

Ketiga adalah keringanan bagi perusahaan yang menunggak listrik karena kesulitan cashflow dan rawan pemutusan hubungan kerja.

“Ini jumlahnya besar. Karena itu, PLN memberi kebijakan, dalam setahun mereka hanya diwajibkan membayar 60% dari kewajiban bayar listrik. Sisanya 40% ditunda baru dibayar bulan ke-13,” ujar Sudirman.

Langkah konkret

Paket kebijakan ekonomi III ini seakan menjawab kritik pengamat dan pengusaha, terkait paket kebijakan ekonomi kedua yang dirilis pemerintah pada 29 September lalu.

Paket kebijakan ekonomi II waktu itu berfokus pada penyederhanaan izin, yang dinilai dampaknya baru akan terasa dalam jangka panjang.

Saat itu pengamat menyebut masalah utama yang membebani dunia usaha ialah biaya produksi, termasuk bahan baku impor yang kian mahal karena pelemahan rupiah serta biaya energi lantaran tarif dasar listrik dan elpiji terus naik.

Karena itu, pemerintah didorong untuk menempuh langkah konkret untuk memberikan keringanan pada biaya energi.
Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Tekstil, sebanyak 36.000 dari 2,75 juta karyawan tekstil di Indonesia telah di-PHK.